0 items Rp ,-
Buku Hindu
Berpunia


Foto Kegiatan

Anggota Baru

  • Sudarsana  I.Gd
  • Nyoman Merta
  • I Komang Arya Prawirajaya
Total Anggota = 153 orang

Apa Kata Mereka

I Gst Ngurah Arya Wiratna

Sangat membantu Umat Hindu yang ada di luar Bali untuk mendapatkan buku-buku ..

I Putu Edi Mardika

Om Swastyastu, terima kasih dengan adanya website bukuhindu.com saya sangat m..

Wayan Lancar

Kami umat Hindu yang berada diluar Bali sangat membutuhkan buku-buku Agama..

Statistik Pengunjung


283485

Pengunjung hari ini : 21
Total pengunjung : 34337

Hits hari ini : 985
Total Hits : 283485

Pengunjung Online: 3



Judul :
Kajeng Kliwon Edisi Revisi
Nama Pengarang :
Niken Tambang Raras
Harga :
Rp 17.000,-
Kategori :
Upacara/Banten/Sesajen
Dilihat :
241 Pengunjung
Jumlah Pembelian : 
 
Bookmark and Share
ISBN :
979-722-067-2
Jumlah Halaman :
100
Ukuran Buku :
12.5 x 18.5
Tahun Terbit :
2006

Deskripsi

Berkat asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) penulis bisa menyajikan buku yang mengulas tentang Rahinan atau "hari Suci" Kajeng Kliwon. Umumnya, Purnama, Tilem dan Kajeng Kliwon sudah lumrah diketahui dan dirayakan oleh Umat Hindu di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya. Disamping hari-hari suci yang lainnya.

Umat Hindu di Bali paling sering merayakan hari-hari suci dengan berbagai rentetan upacaranya. Yang masing-masing ada tujuan dan fungsinya. Sebagai contoh adalah "Yajna Sesa" yang dihaturkan setiap hari oleh umat, dalam bentuk banten jotan yang ditujukan kehadapan-Nya lewat sarwa prani. Sedangkan Kajeng Kliwon dirayakan tiap lima belas hari sekali, serta menghaturkan banten blabaran/segehan dalam wujud nasi yang berwarna 5 (lima), yaitu : putih, kuning, merah, dan brumbun (percampuran dari keempat warna tersebut).

Jika "Yajna Sesa" yang berupa banten jotan atau banten saiban dihaturkan pada pagi hari, maka banten "Blabaran atau segehan" biasanya dihaturkan pada sore harinya (sandikala). Meskipun hari Kajeng Kliwon datangnya tiap 15 (lima belas hari) sekali namun ada beberapa keluarga yang menghaturkan segehan atau banten blabaran itu setiap hari.

Umumnya segehan  atau blabaran itu dihaturkan dibawah (di natar Sanggah, di lebuh, pesuguan, sumur, dapur, jero gede, penunggun karang, sanggar surya, dan lain sebagainya). Yang jelas letaknya selalu dibawah dan dilengkapi pula dengan alas daun serta percikan tirtha yang telah dicampur dengan arak berem dalam caratan. Persembahan ini ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam perbawanya sebagai wujud "Panca Maha Bhuta".

Panca Maha Bhuta di alam semesta ini terdiri dari Perthiwi (zat padat), Apah (zat cair), Teja (cahaya), Bayu (gas), Ether (kosong/ hampa, sunya). Sedangkan di dalam tubuh manusia atau mahluk hidup lainnnya zat-zat Panca Maha Bhuta tersebut adalah : Perthiwi atau zat padat terdapat pada kulit, daging dan tulang. Apah atau zar cair dalam bentuk darah merah, darah putih, keringat, empedu, air seni/air kencing, lendir yang keluar dari hidung dan air mata. Teja atau cahaya berupa suhu badan, panas suhu tubuh. Bayu atau gas berupa angin yang keluar masuk melalui pernafasan baik itu melalui hidung maupun mulut. Adapun Ether atau kekosongan juga ada di dalam tubuh manusia maupun mahluk hidup lainnya.

Panca Maha Bhuta di Alam Semesta dalam istilah Hindu disebut dengan "Bhuana Agung" sedangkan unsur-unsur Panca Maha Bhuta didalam tubuh manusia, binatang atau mahluk hidup lainnya diistilahkan dengan "Bhuwana Alit". Pada waktu manusia masih hidup atau mahluk ciptaan Tuhan lainnya yang berdomisili di Bumi ini, tentu mengalami perkembangan, dari kacil (bayi) dewasa, tua, kemudian mati. Kemudian setelah mati atau meninggal dunia, unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang membentuk tubuh manusia kembali ke Bhuwana Agung. Misalnya dikubur dalam tanah (zat perthiwi), di Aben/di bakar (zat atau unsur teja), di hanyutkan kelaut setelah jadi abu (kembali ke zat apah). Ketika menghanyutkan dan membuang abu jenazah ke air (air sungai atau air laut) dengan menabur-naburkannya ke udara, adalah sekaligus juga mengembalikannya pada unsur Bayu (angin) dan Ether (kekosongan /hampa atau sunya). Menghaturkan segehan atau blabaran pada setiap rerahinan Kajeng Kliwon adalah, berusaha mendekatkan diri pada-Nya melalui unsur-unsur Panca Maha Bhuta serta manifestasinya yang diwujudkan dengan simbul-simbul nasi manca warna, diatas iluk-iluk atau ituk-ituk berbentuk segitiga yang terbuat dari daun slepan (kelapa tua), lengkap dengan lauk pauk berupa bawang jahe dan garam.

Kajeng Kliwon yang dirayakan dengan banten Blabaran melalui simbul-simbul nasi panca warna (5 warna), adalah sebagai sarana umat manusia mendekatkan dirinya kepada Pencipta-Nya. Manifestasi Panca Maha Bhuta yang dilambangkan dengan segehan blabaran berupa nasi Panca Warna adalah merupakan kerinduan microcosmos (bhuwana agung/alam semesta).

Panca Maha Bhuta di alam besar terdiri dari Triloka yaitu : Bhuh Loka (Alam bawah, tempat manusia dan mahluk hidup lainnnya). Bhuwah Loka (Alam tengah, alam roh/alam arwah). Kemudian Swah Loka (Alam para Dewa). Sedangkan Panca Maha Bhuta di alam kecil atau tubuh manusia atau mahluk hidup lainnya terdiri dari Tri Sarira (tiga lapis badan) yaitu : Stula Sarira (badan kasar), Suksma Sarira (badan halus) dan Karana Sarira (badan penyebab).

Jika saja kerinduan umat manusia kepada sumbernya begitu dalam dan disadari berasal dari satu sumber, maka rasa kemanunggalannya itu akan menjadi semakin dekat. Para leluhur jaman dulu, sudah menetapkan bahwa cara yang pas dan cocok untuk menerapkan ajaran suci tersebut adalah dalam bentuk Yajna seperti yang kita lakoni selama ini. Yaitu menghaturkan segehan blabaran setiap rahinan Kajeng Kliwon yang datang setiap 15 hari sekali.

Itulah sekelumit Yajna yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali pada setiap rahinan Kajeng Kliwon. Tentu dibeberapa daerah di Indonesia bahkan di Dunia ada perbedaanya. Namun intinya tetap sama dan bersumber dari ajaran kitab suci Weda.


Biografi Penulis

Niken Tambang Raras dilahirkan di Denpasar 22 Mei 1966 sebagai wartawan Karya Bhakti pada tahun 1991-1996. Kemudian terjun dan aktif pada organisasi-organisasi spiritual diantaranya : berkecimpung di Persatuan Ananda Marga dari tahun 1991-1994. Menjadi anggota Yoana Vikas Denpasar di bawah naungan Sai Study Group pada tahun 1995-1997. Selanjutnya mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Peminat Spiritual Bali dari tahun 1996-2001. Selama aktif dibidang organisasi spiritual, aktif pula sebagai wartawan free land di sebuah media masa di Denpasar.

Aktif menulis di Majalah Warta Hindu Darma dari tahun 2000-2001. Kemudian di Majalah Bianglala yang diterbitkan oleh Paguyuban Peminat Spiritual Bali tahun 2001. Sebagai guru tari (honorer) di sekolah-sekolah swasta pada tahun 2001. Kemudian mengajar seni tari di Panti Asuhan Sunya Giri pada tahun 2002 di Denpasar. Selanjutnya kembali aktif menekuni bidang jurnalistik sebagai wartawan di Tabloid Taksu di Denpasar pada tahun 2001-2003. Merintis dan mendirikan Forum Peduli Sesama tahun 2002 di Denpasar.